Mbah Jugo Gunung Kawi

Mbah Jugo Gunung Kawi

16-05-2010
Prasasti di Pasarean Gunung Kawi yang bertuliskan dalam bahasa Jawa dan satu lagi bertuliskan tulisan latin menceritakan aktifitas Mbah Jugo dan Mbah Imam Sujono. 

siapa eyang Djogo ini sebenarnya
Eyang Djoego sebenarnya bernama Eyang Kyai Zakaria II.  Beliau masih keturunan dari bangsawan keraton Kartasura. Gelar tersebut menunjukan bahwa selain bangsawan, beliau juga seorang ulama. Pada akhirnya nanti, warga Tionghoa juga menyebutnya dengan Tow Law She atau Guru Besar Pertama. Setelah tertangkapnya perang Diponegoro usai, beliau memutuskan untuk mengembara seorang diri, tanpa anak dan isteri.  Agar tak diketahui pasukan Belanda, beliau tak lagi menggunakan  gelar Kyai Zakaria II, dan mengganti nama Sadjoego yang artinya “seorang diri”. Pada akhir pengembaraannya ke daerah Jawa Timur, beliau mendirikan sebuah padepokan di desa SananDjoego, kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar.  Konon nama desa  itu juga diambil dari namanya. Di daerah ini, Eyang Sadjoego atau disingkat Eyang Djoego, selain  mengajar agama islam dan pertanian, juga memberikan pengobatan.  Beliau mempunyai tiga buah guci kuno yang airnya berkhasiat menyembuhkan.  …sumber http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/5838

Makam yang menjadi pusat dari kompleks Pesarean Gunung Kawi tersebut.  Makam yang menjadi magnet untuk menarik  puluhan ribu orang datang setiap tahunnya.  Para Peziarah itu  datang untuk menghormati dan sekaligus memohon berkat kepada beliau yang dimakamkan di tempat tesebut, yaitu Eyang Djoego dan Eyang RM Iman Sudjono. Ya betul, memang dalam satu liang lahat tersebut dimakamkan dua orang Eyang yang merupakan sahabat perjuangan, guru dan murid yang sudah saling mengangkat Bapak-Anak ini

Ternyata benar juga bunyi pesan singkat rekan tadi. Saya beruntung bisa berkunjung di Gunung Kawi, di malam Jumat Legi di Gunung Kawi.

“Mas, bunga Mas, murah kok hanya Rp 2000 saja per bungkusnya, “nampak pedagang menawarkan bunganya kepada saya

Yayasan Ngesti Gondo, lembaga yang secara resmi menjadi pewaris tanah Pasarean dan berhak menyandang jabatan “pengadeg juru kunci makam”, memberikan kesempatan bagi warga desa setempat untuk berdagang di Gunung Kawi.

Akulturasi
berkunjung ke Gunung Kawi. Sebuah berkah tersendiri ketika disana dapat melihat akulturasi budaya China dan Jawa.

NAmpak Bangunan seperti wihara begitu megah dibangun disana dengan lilin lin raksasa pun juga, yang harga sebijinya bisa mencapai Rp 35 juta sampai Rp 40 juta. dan Lilin Raksasa itu ada penjaganya agar api di lilin tetap menyala karena diyakini berkaitan dengan kelangsungan bisnis sang empunya lilin. Jika api itu sampai mati, dipercaya sebagai pertanda matinya bisnisnya.

Jika lilin yang bisa bertahan sampai setahun itu hampir habis, Sukirman menghubungi pemilik lilin untuk mengganti lilin tersebut. Terkadang pemiliknya datang dan mengganti, namun tidak sedikit pula yang cukup mentransfer uang kepada penjaga untuk menggantinya.
Selain mengikuti upacara ritual standart Islam-Kejawen yang dilakukan oleh para juru kunci makam, para peziarah Tionghoa juga melakukan ritual tionghoanya.  Segera saja klenteng kecil buatan Tan Kie Lam dirasa tak bisa lagi menampung  membludagnya kaum Tionghoa yang ingin berseEyangyang.  Untuk itu dibangunlah tiga buah kelenteng kecil yang letaknya lebih dekat lagi dengan makam.  Di ketiga kelenteng ini diisi oleh Dewa Bumi Ti Kong, Dewi Kwan Im, dan kelenteng khusus untuk Ciamsi (ramalan).

Di bekas kelenteng kecil lama yang di bongkar, dibangun sebuah masjid letaknya berdekatan dengan kelenteng Tionghoa yang baru.  Masjid Iman Sujono yang megah ini, konon khabarnya juga sumbangan konglomerat nomor satu Indonesia, Liem Sioe Liong.

“Disini tidak ada diskriminasi suku. Baik itu Jawa ataupun Tionghwa sama saja karena tujuannya cuma satu yaitu berdoa, ” katanya.

Suasana percampuran budaya China dan Jawa memang terlihat sejak awal masuk ke lokasi wisata ritual Gunung Kawi. Di gerbang pintu masuk misalnya, desaign gerbang mirip dengan bangunan China dengan bertuliskan tulisan Jawa.

Begitu juga dengan bentuk pendapa persembanyangan, bangunan dibangun modal bangunan Jawa namun penuh dengan aksesori dari China, seperti lampion dan tulisan huruf Tionghwa.

Selain bangunan dengan modifikasi China dan Jawa, suasana di sepanjang jalan mirip dengan kawasan di Pecinan. Banyak restoran, toko barang antik dan aksesori maupun penjual kelontong yang menawarkan barang beraneka ragam khas Jawa dan China.

Ada penjual batu akik, penjual api lilin raksana dan perlengkapan ritual masyarakat Tionghwa. Di sana juga tampak keramaian suara kocokan dan bunyi gemeretak lemparan kartu ciamsi, hiruk pikuk peramal nasib jangka pendek dan suara gamelan Jawa yang mengiringi pagelaran wayang kulit.

Pemerintah daerah kabupaten Malang sendiri berkomitmen melestarikan seluruh budaya yang ada di Gunung Kawi yang menjadi ikon kota Malang. Untuk menarik wisatawan, pemerintah telah mengagendakan gebyar wisata ritual setiap perayaan 1 Muharram.

Copyright (c)2010 PojokNgalam& MySiteBuilder.com

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s